Syair Duka Anak Bangsa | By @MasturTaher

Syair Duka Anak Bangsa
Karya:  Mastur Taher
 
Ini bukan semata keluh kesah dari jiwa yang resah
Tapi ini adalah sebuah kisah
Ini bukan sekedar kisah sumpah serapah
Tapi adalah sebuah fakta sejarah
Dari sebuah bangsa yang hampir punah ranah
Oleh nafsu serakah

Bersimbah darah tumpah ditanah, membangun rumah ini
Berjenis isak tangis mengiris-iris kalbu memagari rumah ini
Berlipat hajat massa rakyat dipersembahkan padamu
Beribu seru kau pandu  anak-anak bangsamu

Merebut kemerdekaan !
Merajut kebenaran !
Memagut keadilan
Memungut kesejahtraan,
Kemajuan...............

Tapi......tetapi,.... tapi,....tetapi.

Tapi masya allah !
Setelah itu
Kau buru anak-anak bangsamu ke jalan buntu
Kau giring anak-anak bangsamu tertatih merintih
Dilorong-lorong kehidupan yang gelap
Terjerembab dalam ruang pengap
Tergagap- gagap harap
Mencari kebenaran yang disembunyikan
Mencari keadilan yang dikerdilkan dan diketepikan
Kemakmuran yang disamarkan
Kemerdekaan yang dikebiri lewat konstitusi
Kemajuan yang dimanipulasi lewat siaran radio dan televisi

Syair pembangunan  berdendang disetiap petang
Syair persatuan kesatuan berdengung disetiap relung
Syair demi stabilitas dilepas tanpa batas tanpa bekas
Syair kemajuan bergema disetiap masa setiap kesempatan

Tapi, mana dan kemana makna syair-syair manis itu ?
Tapi mana dan kemana makna syair-syair indah itu ?
Mana dan kemana semua itu ?
Mana...manaa... manaaa....... !

Senandung *  
Dengarlah wahai saudara
Kisah tragis sebuah bangsa
Negerinya subur kaya raya
Namun rakyatnya hidup menderita

Karena ulah penguasa yang tak kuasa
Menatap silaunya dunia
Dikiranya bahagia, hidup dalam gelimangnya harta
Dikiranya harta adalah segala-galanya
Akhirnya menjadi sia-sia

Jerih payah berkurun lama
Yang kaya menjadi semakian kaya
Yang miskin makin sengsara
Hilanglah budi bahasa
Hilanglah rasa saling percaya
Dengan sesama saudara sebangsa
Bengis ibaratkan hidup dirimba
Dengan sesama saudara sebangsa
Saling cakar saling memangsa . . .

Kini, anak-anak negeri ini terpaksa menghuni rumah
Yang hampir goyah
Kini generasi hari ini berpijak di atas tanah merekah
Tanpa humus, terbakar hangus
Kini anak-anak bangsa ini menjerit menahan perih

Mengekang dahaga, meregang nyawa
Kini penghuni rumah bangsa ini
Lemas diremas rasa cemas meranggas
Kini lengan-lengan kekar  tempat bersandar
Letih menagih benih- benih kasih yang tersisih
Kini raga- raga bertenaga yang terjaga
Tergesa- gesa  memamah asa tersisa
Terpaksa terbiasa dimangsa

Lemah, lelah, resah, gundah
Menghisap udara busuk kebohongan
Mengunyah sampah kezaliman,
Menelan air liur ketidakpastian
Kini hanya syair-syair duka, syair-syair luka
Menusuk sukma bergema
Perih,... pilu,.... pedih,....

Senandung *  
Duhai apakah ndak jadi
Nasib negeri ini
Kacau  balau disana sini
Hawa nafsu jadi kendali

Alam pun turut memusuhi
Bencana datang silih berganti
Katanya negeri subur makmur gemah ripah loh jenawi
Beras masih impor, rakyat kurang gizi
Hanya karna demi gengsi
Angka kemiskinan pun dimanipulasi

Ya Allah Rabbal Alamin
Bermohon hamba dengan penuh harap dan yakin
Berikanlah kami pemimpin
Membina bangsa marwah terjamin
Berikan kami pemimpin
Dengan agama tak dibuat main-main
Berikan kami pemimpin
Tak tamak harta menyayangi si miskin
Berikanlah kami pemimpin
Yang hati dan jiwanya Engkau pimpin.

                                    ====@@@@@=====

* Puisi ini pernah dibacakan pada Festival Budaya Melayu Internasional
pada September 2006 di Tanjung Pinang, Kepri
 
** Penulis adalah mantan Wabup Bintan, yang kini sebagai Caleg DPRD Provinsi Kepri dapil Bintan- Lingga no. urut 2.


by pksbandarlampung
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger