Saat Nabi dan Para Sahabat Menjadi Suporter Romawi - Bag II (habis)

Sejarah mencatat bahwa tahun 622 Masehi, yaitu setelah tujuh atau delapan tahun kekalahan bangsa Romawi dari bangsa Persia itu, mulailah peperangan baru antara kedua bangsa itu untuk kedua kalinya. Pada permulaan terjadinya peperangan itu telah nampak tanda-tanda kemenangan bangsa Romawi. Sekalipun demikian, ketika sampai kepada kaum musyrik Mekah berita peperangan itu, mereka masih mengharapkan kemenangan berada di pihak Persia. Karena itu Ubay bin Khalaf ketika mengetahui hijrahnya Abu Bakar ke Madinah, ia minta agar putra Abu Bakar, yaitu Abdurrahman menjamin taruhan ayahnya, jika Persia pasti menang. Hal ini diterima oleh Abdurrahman.
Pada tahun 624 Masehi, terjadilah perang Uhud. Ketika Ubay bin Khalaf hendak pergi berperang memerangi kaum Muslimin. Abdurrahman melarangnya, kecuali jika putranya menjamin membayar taruhannya, jika bangsa Romawi menang, maka Abdullah bin Ubay putranya menerima untuk menjaminnya.
Jika melihat berita di atas, maka ada kemungkinannya sebagai berikut: Kemungkinan pertama ialah pada tahun 622 Masehi perang antara Romawi dan Persia itu telah berakhir dengan kemenangan Romawi, karena hubungan komunikasi yang sukar waktu itu, maka berita itu baru sampai ke Mekah setahun kemudian, sehingga Ubay minta jaminan waktu Abu Bakar hijrah, sebaliknya Abdurrahman minta jaminan pula waktu Ubay akan pergi ke peperangan Uhud. Kemungkinan yang kedua ialah peperangan itu berlangsung dari tahun 622-624 Masehi, dan berakhir dengan kemenangan bangsa Romawi.
Dari peristiwa di atas dapat dikemukakan beberapa hal dan pelajaran yang perlu direnungkan dan diamalkan.
Pertama: Ada hubungan antara kemusyrikan dan kekafiran terhadap dakwah dan iman kepada Allah SWT, sebagai sumber agama yang benar di segala tempat dan waktu. Sekalipun negara-negara dahulu belum mempunyai sistem komunikasi yang rapi dan bangsanyapun belum mempunyai hubungan yang kuat seperti sekarang ini, namun antar bangsa-bangsa itu telah mempunyai hubungan batin antara bangsa-bangsa yang menganut agama yang bersumber dari Tuhan di satu pihak dengan bangsa-bangsa yang menganut agama yang tidak bersumber dari Tuhan pada pihak yang lain. Orang-orang musyrik Mekah politheisme menganggap kemenangan bangsa Persia (politheisme) atas bangsa Romawi (Nasrani), sebagai kemenangan mereka juga, sedang kaum Muslimin merasakan kekalahan bangsa Romawi yang beragama Nasrani (samawi) sebagai kekalahan mereka pula, karena mereka masih merasakan agama mereka berasal dari sumber yang satu. Hal ini merupakan suatu faktor yang nyata yang perlu diperhatikan kaum Muslimin dalam menyusun taktik dan strategi dalam berdakwah.
Kedua: Kepercayaan yang mutlak kepada janji dan ketetapan Allah. Hal ini nampak pada ucapan-ucapan Abu Bakar yang penuh keyakinan tanpa ragu-ragu di waktu menetapkan jumlah taruhan dengan Ubay bin Khalaf. Harga unta seratus ekor adalah sangat tinggi waktu itu, kalau tidak karena keyakinan akan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Alquran yang ada di dalam hati Abu Bakar, tentulah beliau tidak akan berani mengadakan taruhan sebanyak itu, apalagi jika dibaca sejarah bangsa Romawi, mereka di saat kekalahannya itu dalam keadaan kucar-kacir. Amat sukar diramalkan mereka sanggup mengalahkan bangsa Persia yang dalam keadaan kuat, hanya dalam tiga sampai sembilan tahun mendatang.
Keyakinan yang kuat seperti keyakinan Abu Bakar itu merupakan keyakinan kaum Muslimin, yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun, sekalipun dalam bentuk siksaan, ujian, penderitaan, pemboikotan dan sebagainya. Hal ini merupakan modal utama bagi kaum Muslimin menghadapi jihad yang memerlukan waktu yang lama di masa yang akan datang. Jika kaum Muslimin mempunyai keyakinan berusaha seperti kaum Muslimin di masa Rasulullah, pasti pula Allah mendatangkan kemenangan kepada mereka.
Ketiga: Urusan sebelum dan sesudah terjadinya suatu peristiwa adalah urusan Allah, tidak seorangpun yang dapat mencampurinya. Allah-lah yang menentukan segalanya sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Hal ini berarti bahwa kaum Muslimin harus mengembalikan segala urusan kepada Allah saja, baik dalam kejadian seperti di atas, maupun pada kejadian dan peristiwa yang merupakan keseimbangan antara situasi dan keadaan. Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, demikian pula kelemahan dan kekuatannya yang terjadi di bumi ini, semuanya kembali kepada Allah. Dia berbuat menurut kehendak-Nya. Semua yang terjadi bertitik tolak kepada kehendak Zat yang mutlak itu. Jadi berserah diri dan menerima semua yang telah ditentukan Allah adalah sifat yang harus dipunyai oleh seorang mukmin.Hal ini bukanlah berarti bahwa usaha manusia, tidak ada harganya sedikitpun, tetapi usaha manusia merupakan syarat berhasilnya suatu pekerjaan. Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui melepaskan untanya di muka pintu mesjid Rasulullah, kemudian ia masuk ke mesjid, sambil berkata: “Aku bertawakkal kepada Allah, lalu Nabi bersabda:
“Ikatkanlah unta itu sesudah itu baru engkau bertawakkal.” (H.R. Tirmizi dari Anas bin Malik)
Berdasarkan hadis ini, seorang muslim disuruh berusaha sekuat tenaga, kemudian ia berserah diri kepada Allah tentang hasil usahanya itu.
Akhir ayat ini menerangkan bahwa kaum Muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu. Mereka bergembira itu adalah karena:

  1. Mereka telah dapat membuktikan kepada kaum musyrikin Mekah atas kebenaran berita-berita yang ada dalam ayat Alquran.
  2. Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu, merupakan kemenangan agama Samawi atas agama ciptaan manusia (agama yang dianut oleh kaum Muslimin termasuk bangsa Romawi).
  3. Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia ini mengisyaratkan kemenangan kaum Muslimin atas orang-orang kafir Mekah dalam waktu yang tidak lama lagi.
Catatan: Pertaruhan yang terjadi antara Abu Bakar dan Ubay bin Ka’b ini terjadi sebelum pertaruhan dilarang oleh Islam. Sumber bacaan terkait tentang tulisan ini silahkan cek di: Tafsir Ibnu Katsir (jilid 3), Ibnu Katsir, Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Shahih Sirah An-Nabawiyah, Asy-Syaikh Al-Albani, dan Mukhtashar Siratur Rasul, Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahab.
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger