Produk Lokal Diminta Penuhi SNI



JAKARTA - Anggota DPR RI Komisi IV, Refrizal menyatakan pentingnya pelaku usaha memiliki standarisasi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Karena standarisasi produk adalah suatu yang mutlak dalam pasar Masyarakat Ekonomi Asean.

Untuk Indonesia, kata Ref­rizal sudah ada Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun dalam penerapannya belum maksimal. Karena ma­sih banyaknya produk pelaku usaha Indonesia yang belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Untuk bersaing di pasar ASEAN, semua produk yang diekspor harus memiliki stan­dar nasional. Supaya tidak kalah saing dengan produk-produk impor yang telah me­miliki standarisasi di nega­ranya,” tutur anggota komisi bidang perdagangan, perin­dustrian, investasi, koperasi, UKM, dan BUMN ini.

Dikatakannya, perlin­du­ngan terhadap produk lokal dalam penerapan MEA 2015 merupakan masalah bagi pe­me­rintah Indonesia. Karena masih banyaknya produk lokal yang belum memenuhi standar nasional.

Selain itu, pemasaran pro­duk-produk lokal masih me­makai cara konvensional. Saat ini, seharusnya setiap produk yang bebas beredar di pasar ASEAN harus memiliki web­site untuk pemasaran.

“Kalau SNI telah ter­pe­nuhi, maka pemanfaatan tek­nologi sebagai pemasaran. Karena keberadaan MEA ha­rus dipandang sebagai bertam­bahnya pasar Indonesia. Yang kira-kira menjadi dua kali lipat, yaitu dari 250 juta men­jadi 600 juta,” kata politisi PKS ini.

Dengan pola pikir dan semangat memperbaiki kua­litas dan pemasaran maka dapat memetik manfaat op­timal dari MEA. Untuk mendorong pere­ko­no­mi­an agar lebih cepat tum­buh dan ber­daya saing.

Kendati demikian, pi­haknya juga menyadari berbagai indikator yang menunjukkan kelemahan, seperti daya saing total, indeks infrastruktur, indeks terkait dengan birokrasi dan masih adanya pungli, ko­rup­si dan suap yang menim­bulkan ekonomi biaya tinggi.

Selain itu, ditambah de­ngan daya saing Indonesia masih dibawah negara te­tang­ga. Hal itu terlihat dalam an­jlok­nya pertumbuhan ekspor 2014 lalu. Saat ini, katanya produksi Industri Indonesia hanya menggenjot angka 1,4 persen, sedangkan negara tetangga Filipina mencapai 9,6 persen, Vietnam 6,7 persen, dan Singapura 3,3 persen.

Foto: cdn.metrotvnews.com

Sumber: harianhaluan.com
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger