Islam dan Syiar Dakwah Nusantara (2)

Islam. Betapa kata ini sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah. Adapun jika kita mentafakkuri tentang Islam di Nusantara, ada hutang besar yang sudah seharusnya kita bayar. Ialah syi’ar dakwah, untuk, oleh, dan dari Nusantara bagi seluruh ummat manusia.

Meski Islam telah hadir di negeri ini sejak abad pertama Hijriah, terlacak dari surat menyurat antara Maharaja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan dan ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, barangkali yang dapat kita catat sebagai masa dakwah paling intensif dan massif di jazirah ini adalah enam abad lalu. Untuk menyebutnya, dalam sejarah peradaban Islam kita dikenalkan dengan istilah Futuhat.

Futuhat inilah pembebasan yang dibawakan oleh Rasulullah dan para sahabat, sebagaimana Allah istilahkan bagi perjanjian Hudaibiyah; “Inna fatahna laka fathan mubiinaa.. Sesungguhnya Kami telah bukakan bagimu kemenangan yang nyata..” (QS Al Fath [48]: 1); kota Makkah “Fa ja’ala min duuni dzalika fathan qariibaa.. Maka Dia jadikan di sebalik itu kemenangan yang dekat..” (QS Al Fath [48]: 27); dan juga seluruh jazirah, “Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath, wa ra-aitannaasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa.. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.” (QS An Nashr [110]: 1-2)

Melihat ketiga peristiwa tersebut, sungguh indah bahwasanya Allah menunjukkan kepada kita metode-metode bagi Futuhat yang tidak tunggal, apalagi sebagaimana sering dituduhkan yakni melulu melalui peperangan. Tampak bahwa ia bisa berbentuk perundingan damai yang selepas itu membawa begitu banyak kebaikan, atau juga pengerahan kekuatan militer dengan pertumpahan darah yang amat minimal, dan pula perutusan-perutusan yang membawakan kabar gembira, peringatan, seruan, serta cahaya ini ke segala penjuru dunia.

Lalu apa nilai pencerahan yang ditawarkan oleh Futuhat ini? Mari kita kenang sebuah kalimat bersejarah. “Kami adalah kaum yang dibangkitkan Allah; untuk membebaskan manusia:
1) dari penghambaan kepada sesama makhluq, menuju peribadahan pada Khaliq semata.
2) dari sempitnya dunia, menuju luasnya akhirat.
3) dari kezhaliman agama-agama, menuju keadilan Islam.”
Jawaban indah ini menjadi syi’ar Futuhat. Mulai dari Sa’d ibn Abi Waqqash sang panglima besar, Al Mughirah ibn Syu’bah sang komandan lapangan, hingga Ribi’ ibn Amir si prajurit kecil dalam kesempatan berbeda menyatakannya dengan amat kompak kepada Rustum, panglima agung Persia dalam pertempuran Qadisiyah.

Maka “tangan Allah bersama jama’ah”. Jika Musa ‘Alaihis Salaam yang berkata “Inna ma’iya Rabbi sayahdin.. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk padaku” dibelahkan laut untuknya, hingga kaumnya menyeberang dalam takut diapit gelombang besar yang menggunung; pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash bergandeng tangan menyeberangi lebar dan derasnya arus Dajlah dengan karamah yang membuat musuh terperangah. Selama tiga nilai Futuhat ini dipelihara; jadilah ia da’wah yang mencahayai semesta.

Tapi sejarah kita juga berisi pengalaman tentang bagaimana kiranya jika nilai-nilai Futuhat ini tidak dijaga.
Di Andalusia, saat raja-rajanya berrebut memperbudak kulit putih hingga jangat hitam dan rambut pirang hingga mata biru; kekuasaan 7 abad di sana jadi sedikit sekali membawakan ruh dakwah. Seperti digambarkan Ahmad Thompson dalam Islam in Andalus, kolam-kolam khamr direnangi dalam pesta, permainan optik dan air raksa menakutkan duta-duta Franka, bebangunan indah lagi rumit menjulang, ornamen-ornamen ukir dan keramik menakjubkan, pun Ziryab mengenalkan fine dining hingga mode pakaian tiap musim. Tapi bangsa keturunan Visigoth melihat itu semua sebagai lambang penjajahan.

Saat kuasanya rapuh dan antar penguasanya rusuh, Ferdinand dari Arragon dan Isabella dari Castillia memulai reconquesta. Satu per satu; Cordoba, Malaga, Huelva, Toledo, Sevilla, Almeria, dan akhirnya Granada jatuh. Maka tergulunglah muslimin nyaris tanpa sisa hingga bukit tempat sang Sultan terakhir menangisi lepasnya daulah terujung diberi nama “El Ultimo Sospiro del Moro”; desah nafas terakhir orang Mor. Dan hingga hari ini, Spanyol dan Portugal di semenanjung Iberia masih mencatatkan diri dalam tingkat Islamophobia yang amat tinggi.

Empat abad lamanya pula, muslim Mughal memerintah tiga perempat anak benua. Tapi seperti ditangisi Aurangzab Alamghir tentang Syah Jahan ayahnya; ketika cinta pada 1 perempuan mengorbankan 30.000 budak Hindu yang dibunuh sebakda diperas tenaganya untuk pembangunan kuburan mewah bernama Taj Mahal serta 3 tahun kas negara bangkrut dan pajak dipungut paksa demi pembangunannya. Hari ini, hanya sepuluh perratus kaum muslimin tersisa di negeri Bharata, India.

*oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna.
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger