Dr. Piprim : Vaksinasi Jauh Lebih Murah Bila Dibandingkan Dengan Biaya Pengobatan Setelah Jatuh Sakit

Merebaknya kembali kejadian luar biasa (KLB) difteri di Sumatera Barat dan Aceh pada penghujung 2014 telah membuka mata ada masalah dengan persepsi masyarakat tentang imunisasi.

Imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective. Program imunisasi menyebabkan penurunan signifikan pada penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2003 memperkirakan, 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi.

Demikian disampaikan dr. Piprim B. Yanuarso saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Kontroversi Imunisasi yang diselenggarakan Bidang Perempuan DPD PKS Bandar Lampung, Minggu 9/8/2015 di Balai Keratun, Kompleks Perkantoran Pemprov Lampung. Kegiatan ini diikuti 300 peserta baik kader maupun masyarakat umum.

Piprim menerangkan, terjadinya kesalahan persepsi terhadap imunisasi tak lepas dari gencarnya isu yang dilontarkan kelompok antivaksin di Indonesia. Mereka menebar isu-isu tersebut melalui buku, tabloid, media sosial sampai seminar dan ceramah keagamaan di masjid-masjid dan majelis taklim.

“Pendekatan yang dilakukan kelompok antivaksin ini adalah pendekatan ideologis dengan basis agama Islam. Isu yang diangkat biasanya menyangkut kehalalan dan keamanan vaksin dan isu konspirasi Yahudi di balik program vaksinasi,” jelas Piprim.

Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudarat (keburukan) buat kemanusiaan.

Kata Piprim, ia menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.

Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13 ribu-20 ribu (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.

Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang per tahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak, kasus menurun hingga 55 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.

Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%.

Sebelum 1940-an terdapat 150 ribu-260 ribu kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9.000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.

Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada 1964, sekitar 20 ribu bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus.

Setelah adanya imunisasi, hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.

“Setelah mengkaji berbagai literatur, data dan fakta tentang imunisasi, saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya yang juga seorang dokter yang masih muda telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta,” kata Piprim

“Pesan khusus saya untuk anak-anak Indonesia, ayo galakkan vaksinasi sebagai upaya preventif untuk mencegah penyakit-penyakit yang menular dan berbahaya, bisa menimbulkan cacat dan kematian. Dengan vaksinasi ini kita sudah melakukan suatu usaha atau ikhtiar yang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan setelah jatuh sakit” pungkas Piprim.
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger