Sekura: Sentra Kuliner Rajabasa

Ilustrasi sentra kuliner. www.choqnews.com

Gagasan Sekura (Sentra Kuliner Rajabasa) ini muncul dari rekan penulis sesama dosen FISIP Unila. Hasil observasinya seputar Bandar Lampung menemukan beberapa fakta menarik. Macet atau arus tersendat di malam hari di depan Museum Lampung terutama pada akhir pekan atau hari libur, efek dari parkir kendaraan mengular di badan jalan, sementara penjual kaki lima dan pengunjung (didominasi mahasiswa dan warga masyarakat) tumplek duduk menikmati jajanan sambil duduk nikmati udara malam dan ngobrol, diskusi dengan fasilitas seadanya di halaman museum. 

Dosen senior yang pergi-pulang ke rumahnya di kawasan Bataranila kerap melewati Terminal Rajabasa menemukan pemandangan berbeda, terminal yang temaram, cukup luas, ada kolam, taman dan pepohonan, namun sepi di malam hari. Hanya di bagian atas terminal masih terlihat aktivitas bus jurusan ADKP (antarkota dalam provinsi), terutama jurusan Bakauheni, sementara space terminal bagian depan kurang terpakai. Dosen ini teringat Ridwan Kamil, wali kota Bandung yang pandai memaksimalkan ruang sempit untuk kepentingan ruang terbuka hijau, ruang publik. Dia kagum Ridwan yang cerdas memunculkan landscape baru pariwisata yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat dan keindahan pembangunan pariwisata kota.

Sekilas, saya dukung gagasan teman ini terutama dari sisi potensi pertemuan pembeli dan penjual. Optimistis bahwa anak kost dan warga dari kawasan pramuka hingga penengahan akan mampir asalkan tersedia areal parkir, keamanan terjaga, penerangan diperbanyak, kebersihan, fasilitas tempat duduk, variasi kuliner, harga terjangkau, ada jadwal terbatas buka dan tutup, ada pembagian fungsi blok terminal, apalagi ada fasilitas Wi-Fi free. 

Pedagang kaki lima dengan tenda nonpermanen akan datang dengan sendirinya antre gantian lapak apabila pembeli numpuk. Lihat saja event Lampung Fair yang kerap dikelilingi pedagang kaki lima tanpa perlu diundang. Sekura kelak bisa dimaknai juga sebagai sentra kuliner rakyat. 

Tapi, sebagai sesama akademisi pencinta wisata kuliner dan peminat kajian kebijakan publik. Saya katakan kepada senior ini bahwa gagasan tersebut baik, hanya saja perlu perencanaan yang matang, perlu sosialisasi, perlu kajian, perlu uji atau diskusi publik melalui kolom opini Lampung Post ini, dibutuhkan partisipasi dan komitmen semua pihak untuk melaksanakan gagasan tersebut, terutama menjaga kontinuitas dan dampak dan tantangan yang mungkin muncul kemudian.

Kenapa mulai dari dampak dan tantangan? Karena ini khas cara berpikir sebagian insan dan alumni kampus yakni melihat sesuatu dari mata dan otak kiri. Melihat sesuatu dari bayangan gelap sehingga takut melangkah dan akhirnya diam dan inilah yang dikritik keras alm Bob Sadino seputar kampus dan alumni yang terjebak menjadi menara gading. 

Kritik Bob Sadino saya kira ada benarnya. Lihat saja belakangan ini muncul berita seorang guru besar yang gelisah saat 300 meter dari kampusnya bakal ada rencana rest area. Persepsinya soal zona pendidikan tampaknya sempit sekali. Bila persepsi yang sama dipakai para pendiri dan penerus kampus hijau, mungkin Terminal Rajabasa yang letaknya berdampingan dengan kampus cepat-cepat minta digeser ke luar. 

Padahal, bila kita melihat utuh dengan mata dan otak kanan, bisa jadi rest-area itu sebagai sebuah keuntungan yakni (1) menjadi landscape baru untuk orang melihat dan mengenal kampus baru kita; (2) terjadinya secara alami sosialisasi dan transparansi wujud kampus, yang bisa jadi menimbulkan kebanggaan warga pelintas yang menguliahkan anaknya di sana; (3) muncul apresiasi dan partipasi masyarakat yang dekat karena kampus tidak mengisolasi diri.

Kembali soal gagasan Sekura ini. Seorang rekan akademisi yang saya ajak diskusi berkomentar begini. “Bila kita sedikit saja abai soal pengawasan, ketertiban, dan pengamanan, bisa jadi sentra kuliner Rajabasa itu akan tercemari berubah menjadi lokasi transaksi narkoba-miras dan transaksi cabe-cabean, termasuk wilayah kongko komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender)”.

Ada juga yang berpandangan gagasan itu sulit terwujud karena lokasi terminal Rajabasa kewenangannya dimiliki tiga institusi, yakni Pemkot Bandar Lampung, Pemprov Lampung, dan Kemenhub. Masing-masing memiliki rencana dan keinginan masing-masing soal lokasi tersebut. Sulit menyatukan persepsi tiga institusi tersebut. Apalagi, tiga institusi tersebut diawasi oleh mitra kerja (Dewan Perwakilan Rakyat) dan badan pemeriksa yang punya pemikiran, standar, dan aturan yang berbeda. “Lebih baik kita cukup ngajar, meneliti saja, Pak Syafar. Ngapain ikut menggagas sesuatu yang bukan urusan kita.” 

Meski penuh tantangan, saya yakin bila kita bersama bisa belajar dari langkah sistematis Ridwan Kamil menata Kota Bandung dan belajar dari langkah berani Tri Risma maharini menata Kota Surabaya, saya optimistis fungsi Terminal Rajabasa kelak tetap berjalan dan sentra kuliner Rajabasa akan membawa manfaat bagi pembangunan pariwisata kota dan kesejahteraan ekonomi rakyat. Semoga. Tabik pun. 

Penulis : Syafarudin, dosen dan Ketua Komunitas Bisnis Kreatif FISIP Universitas Lampung 

Sumber : http://lampost.co
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger