Menentukan Peran

Oleh
M. Imron Rosadi
Ketua DPC PKS Kemiling


Didalam siroh tercatat, ketika terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah saw. beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid termasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usamah pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah.

Dalam Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang kembali bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.


Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara untuk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yang tua-tua. 

Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang muda remaja menjadi panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun

Saudaraku, 

kisah diatas sarat makna, menginspirasi serta memotivasi. Sahabat muda Usamah bin Zaid mampu menjadi antitesis wajah pemuda masa kini. Mengajari kita untuk menjadi sosok yang berani mengambil peran, ditengah kondisi dunia yang hari ini kian meninabobokan anak-anak muda Indonesia, meracuni fikiran generasi muda dengan hayalan dan angan angan, membuai dengan kesenangan semu yang seakan-akan abadi. Ya, itulah tantangan kita hari ini

Saudaraku, 

Keberanian mengambil peran merupakan hal yang fundamental. Keberanian ini menjadi salah satu keberanian yang hari demi hari kian redup. Tentu penyebabnya selain kondisi eksternal diatas, ada faktor internal yang juga tidak bisa kita nafikan. Rasa takut akan gagal menjadi salah satu faktor internal yang dominan.

Saudaraku, 

Rasa takut adalah kelemahan yang merupakan fitrah manusia. Namun dalam pengejawantahannya, ada generasi yang  mampu merubah rasa takut menjadi sumber energi.


Khalifah Umar bin Abdul Aziz cobtohnya, ketika beliau hendak dilantik, ia berbisik kepada Imam Az-Zuhri, “inni akhafunnar” (saya takut kepada neraka). Itu kalimat pertama yang ia ucapkan ketika dilantik. Beiau memulai peran kepemimpinan tidak dengan berharap surga, akan tetapi memulai dari rasa takut kepada neraka. (penggalan tausiyah ust Anis Matta)


Umar bin Abdul Aziz berhasil mengelola ketakutan menjadi kekuatan, menjadikannya sumber energi untuk maksimal bekerja untuk kemakmuran rakyat yang dipimpinnya. Dan siapa yang menyangka beliau memimpin hanya 2.5 tahun. Namun keberhasilan beliau memakmurkan negerinya tercatat dalam sejarah dunia.


Saudaraku, 

Berani mengambil peran, artinya kita berani untuk memikul beban.
Kembali mengutip tausiyah ust Anis Matta, "seberapa besar beban yang kita pikul, sebesar itu pula posisi kita di akhirat".


Cerita Usamah bin Zaid serta Umar bin Abdul Aziz adalah gambaran, betapa keberanian menentukan peran adalah langkah awal kesuksesan. Bila dahulu Usamah tidak mendaftar di perang uhud, dan menangis ketika tidak diizinkan, maka kecil kemungkinan, peluang beliau mendapat kesempatan memimpin diperang – perang berikutnya. 

Bila dahulu Umar bin Abdul Aziz tidak menjadikan rasa takut akan api neraka sebagai sumber kekuatan. Maka bisa jadi kerja-kerja kepempimpinan beliau tidak menjadi catatan sejarah dan sumber inspirasi umat manusia.

Saudaraku, 

Ketakutan akan masa depan, ketakutan tidak berhasil dalam mengemban amanah harusnya mampu menjadi sumber energi kita untuk bekerja lebih maksimal. Tugas kita di dunia hanya ikhtiar dan tawakal kepadaNya. Hidup kita hanya sekali, maka segera tentukan peran yang akan kita ambil. Lalu segera persiapkan segala bekal yang mampu menunjang keberhasilan kita. 

Ketika peran sudah kita tentukan, bekal sudah kita persiapkan, kerja sudah kita lakukan, camkan, tidak usah bayak menuntut untuk dihormati dan dihargai. Biarkan sejarah yang mencatat segala keberhasilan yang kita lakukan. 

_Fastabiqul khairot_
Kemiling, 9 Februari 2017
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger