Keberanian dan Inisiatif



Oleh
M IMRON ROSADI 

Ketua DPC PKS Kemiling 

Rabu siang, 15 Maret 2017,  tepat pukul 10.43, saya dan salah seorang teman berkesempatan bersilahturahim ke rumah salah seorang guru kita di dalam harakoh dakwah ini. 

Saat ini beliau masih diamanahkan sebagai salah satu anggota DPRD, dan beliau juga pernah menjabat menjadi salah satu qiyadah partai ini di kota Bandar Lampung.

Obrolan ringan, dimulai dengan saling bertanya tetang kabar, kesehatan serta usaha kami di bidang properti dan tour travel. Lima belas menit selanjutnya, obrolan kami masuk ke tema-tema dakwah, kader dan amanah, suasana pun semakin cair dan hangat.

Beliau menyampaikan beberapa hal kepada kami berdua, "Akh, tantangan kita hari ini ada beberapa hal", pertama, inisiatif kader dalam bergerak, keberanian kader dalam mengambil peluang. Kedua, keberanian harokah  dalam mengevaluasi dan inisiatif perbaikan.

Tak terasa diskusi kami tentang tema diatas mengalir, interaktif hingga azan dzuhur berkumandang.

Dari beberapa kalimat inspirasi yang beliau sampaikan, kami mencoba mengelaborasi dalam beberapa catatan kritis,

Ya, hari ini suka tidak suka ada sebuah kondisi dimana, dua krisis tersebut terjadi di dalam internal kita, Inisiatif dan keberanian. Berbicara inisiatif kader dalam bergerak dan keberanian kader dalam mengambil peluang, maka kita akan dihadapkan dengan beberapa realitas data.

Data-data yang seharusnya berani kita buka dan evaluasi secara objektif ialah capaian dakwah kita di Indonesia selama kurang lebih 30 tahun ini.

Rabu sore kami mendapat kutipan tulisan kritis yang layak untuk menjadi bahan evaluasi : 

Jumlah Kader PKS usia 40-50 tahun 30-an%
Jumlah Kader PKS usia 30-40  berkisar 40-an%
Jumlah Kader PKS dibawah 30th berkisar 15%
Sisanya usia diatas 50 tahun.

Apabila informasi diatas benar, maka sedang terjadi krisis di partai dakwah. Berdasar hasil sensus BPS 2010 maka jumlah penduduk produktif di thn 2017 ini usia 19-41 thn bisa mencapai 104 jutaan atau sekitar 45% dr jumlah penduduk, dg situasi spt ini Indonesia sedang mengalami deviden demografi (bonus demografi).

Partai dakwah dg jumlah kader usia 30-50th mencapai 70% ini merupakan sinyal defisit demografi, Indonesia mengalami deviden demografi tetapi partai dakwah justru sedang mengalami defisit demografi.

Saudaraku,

Mengutip pernyataan salah seorang kader kita ketika membaca tulisan diatas.

Bro, bacanya jangan pake baper ya, bila data tersebut benar, maka jadikan  trigger untuk sarana evaluasi dan perbaikan.

Keberanian mengevaluasi secara objektif merupakan syarat mutlak apabila kita ingin mendapatkan bahan untuk perbaikan.

Apabila logika AQS (Asal Qiyadah Senang) serta logika AKB (Asal Kader Bangga) menjadi landasan kita menyajikan data dan mengevaluasi, maka dapat dipastikan bahwa harokah kita akan stagnan.

Bukankah dalam pemahaman aqidah kita, nanti di akherat setiap kita akan dihisab orang per orang. Serta balasan kebaikan dari Allah merupakan buah dari ke RidhaanNya kepada amal kita.

Berjamaah sejatinya merupakan upaya kita untuk melipatgandakan amal, karena memang amal pribadi kita tidak cukup untuk meraih simpati Allah SWT.

Yang fatal ialah jangan sampai keikhlasan dan upaya itqon nya amal kita dihancurkan dengan logika AQS dan AKB menjadi thogut yang merasuki fikiran dan gerakan amal dakwah kita.

Setelah evaluasi objektif berani kita lakukan, selanjutnya akan muncul semangat inisiatif perbaikan.
Perbaikan, merupakan fitrah keniscayaan. Karena dengan perbaikan siklus regenerasi di harokah akan berjalan dengan baik dan minim konflik.

Saudaraku,

Mari kita bersinergi dan berbaik sangka. Masukan, kritik untuk harokah ini, baik dari internal maupun eksternal merupakan sarana untuk mengoptimalkan daya akal kita untuk berfikir dan menghasilkan gagasan-gagasan yang menjadi investasi amal jariyah kita.

Bukankan kemenangan dakwah yang kita baca dalam Siroh selalu diapit dengan dimensi ukhrowi dan upaya manusiawi.

Perang Khandaq salah satu contoh dimana dimensi ukhrowi dan manusiawi berkolaborasi. Dalam dimensi ukhrowi, Allah SWT memberikan kekuatan fisik dan mental kepada kaum muslimin yang kala itu dalam kondisi diembargo ekonomi serta shoum namun sanggup membuat parit dengan lebar 12 M serta kedalaman 8 M yang melingkari Madinah.

Dalam dimensi Manusiawi, ide membuat parit merupakan buah dari berfikir keras dan analisa mendalam sehingga strategi tersebut berhasil membendung serangan kaum musyrikin.

Akhirnya, mari kita saling bergandengan tangan dan memperbaiki prasangka. Berjamaah adalah nikmat terindah yang kita dapatkan, sehingga mampu merubah cara pandang kita tentang hidup.

Keunggulan manusia dibandingkan dengan mahluk lain ialah pada fitrah akalnya, mari berikan ruang dan peluang untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Mari berani untuk mengevaluasi, lalu segera bangkit, maju menjadi inisiator perbaikan.

_Fastabiqul khairot_
Kemiling, 16 Maret 2017
Share this post :
Comments
0 Comments

Popular Post

Fans Page

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Bandar Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger